Refleksi ‘HARDIKNAS” 2017 PENDIDIKAN SEPANJANG USIA MELINTAS JAMAN : Konsep, Model dan Urgensi Pendidikan dalam Sejarah-Budaya Jawa

Silakan klik tautan ini.

PRASAWYA TIRTHA PAWITRA

Menuju PRA-TI-PA, Kontempasi HARI AIR Maret 2017

PRATIPA (PRASAWYA TIRTHA PAWITRA) :
TIRTHAYATRA MENGITARI ARDI SUCI PENANGUNGAN

01

Oleh: Patembayan Citralekha dan Ecoton

A. Prosesi Melingkar Ber-Tirthayatra

Bergerak sendirian atau bersama melingkari sesuatu yang diyakini sebagai penting dan bahkan suci merupakan pola ritus yang dijumpai pada banyak religi. Prosesi melingkar (circle procetion) dengan demikian menjadi ‘pola ritus’ yang nyaris universal. Dalam ukuran amat besar, sesuatu yang menjadi titik sentrum (axis) dari prosesi melingkar itu bisa berupa gunung suci (holy mountain). Prosesi yang dilakukan data berupa bergerak melingkarinya searah dengan jarum jam (pradhaksina) atau sebaliknya berlawanan dengan arah jarum jam (prasawya). Lanjutkan membaca “PRASAWYA TIRTHA PAWITRA”

Drainase Arkhais

Renungan di Penghujung Musim Hujan
Revitalisasi-Refungsionalisasi Saluran Drainase Arkhais

ASET POTENSIAL ARKEO-HIDROLOGIS KOTA MALANG :
UNGKAPAN DATA SEJARAH MASA KOLONIAL TENTANG INSTALASI PENGENDALI AIR DI BAWAH TANAH

01

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Air, Berkah dan Bencana

02Salah satu unsur fisis-alamiah yang penting bagi mahluk hidup – tak terkecuali bagi manusia – adalah air. Terhadap manusia, air memberi banyak berkah. Namun sebaliknya, tidak jarang air menumpahkan ‘air bah’ yang menjelma menjadi bencana, yang menyusahkan bahkan menghancurkan kehidupan manusia. Banjir, terlebih lagi luapan air berarus deras yang dinamai ‘banjir bandang’, adalah jenis petaka yang riil menimpai tidak sedikit areal permukiman manusia. Bagi negara-negara yang mempunyai iklim muson, dengan iklim penghujan dan iklim kemarau di dalamnya, banjir acapkali menjadi bencana tahunan di puncak musim penghujan . Ada tempat-tempat tertentu bahkan menjadi ‘langganan banjir’ tahunan, yang bisa jadi dalam kurun waktu amat lama tak kuasa dientaskan dirinya kebencanaan ini. Sebutan ‘kampung banjir’ atau ‘daerah/kota banjir’ maupun toponimi seperti ‘Ngancar, Balong atau Balongan, Ngembak atau Ngembakan, Ledok, dsb’ memberi pencitraan geografis yang demikian. Lanjutkan membaca “Drainase Arkhais”