Benteng Tabanio

BENTENG TABANIO DI TANAH LAUT KALSEL DALAM PERBANDINGAN LINTAS MASA

01

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Perbentengan Nusantara Era Kerajaan

Pada dasarnya manusia senantiasa hidup berkelompok dengan membentuk sistem sosial secara berpindah-pindah atau menetap di suatu tempat. Setelah terjadi perubahan pola hidup dari berpindah-pindah (nomaden dan semi-nomaden) menjadi menetap (sedentair), mulailah terfikir untuk membangun fasiltas pertahanan guna melindungi kelompoknya dari ancaman, gangguan bahkan serangan yang datang dari kelompok lain atau dari binatang buas. Dengan pemikiran itu dibuatlah bangunan atau daerah pertahanan, yang lazimnya disebut ‘benteng’ (Hughes, 1979:9-11). Kata ‘benteng’ memiliki arti harafiah sebagai bangunan tempat berlindung atau bertahan dari serangan musuh, bisa juga menunjuk kepada dinding (tembok) untuk menahan serangan (KBBI, 2002:135). Dalam ‘Ensilopedi Indononesia’, benteng didefinisikan sebagai lokasi militer atau bangunan yang didirikan secara khusus, diperkuat, dan tertutup untuk melindungi sebuah instalasi, daerah atau sepasukan tentara dari serangan musuh atau untuk menguasai suatu daerah. Terkadang benteng diasosiasikan dengan kegiatan militer (Novita, 1996). Kehadiran benteng dengan demikian tidak lepas dari kebutuhan naluriah manusia akan rasa aman. Pertahanan kota antara lain dilakukan dengan mendirikan tembok, parit maupun benteng pertahanan terakhir. Bahkan, kaum pedagang Eropa selalu berusaha untuk memperbesar gudang-gudang kecil tidak bersenjata menjadi benteng, yang tak hanya mampu menahan api namun juga serangan bersenjata (Reid, 1992:83, 140).

Semenjak terbentuknya sistem sosial yang pertama, perbentengan bersahaja telah hadir dalam bentuk tanggul tanah berpola melingkar tanpa atau dengan disertai tatanan batu-batu kerakal guna melindungi permukiman atau tempat yang dianggap penting. Bagian luar dari benteng dapat dilengkapi ataupun tanpa disertai parit keliling. Benteng seperti ini tergambar pada megalithic settlement. Dibalik tradisi ‘lompat batu’ pada living megalith di Pulau Nias tergambar suatu model pertahanan kuno yang berupa pagar keliling berukuran cukup tinggi terbuat dari tatatan batu kerakal. Untuk melintasinya dibutuhkan kemampun khusus, yakni melompat tinggi melintasi pagar batu tersebut. Benteng purba yang berbentuk tanggul tanah antara lain dijumpai di Way Sekampung daerah Lampung dan di Lahat (Triwuryani, 2006; Indriyastuti, 2006). Benteng yang demikian lazim disebut ‘benteng alam’. Benteng-keraton buton, yang meskipun dibuat dari batu, namun denahnya mengikuti benteng alam yang telah ada (Riyanto, 2002).

Bentuk benteng menjadi kian kompleks dan fungsinya kian beragam ketika memasuki Masa Hindu-Buddha. Bentuk benteng pada masa ini bukan tidak mungkin mendapat pengaruh dari perbentengan India, yang telah berkembang lebih awal dan lebih maju. Pada India Raya benteng telah dikenal semenjak masa Pra-Aria, terbukti dengan diketemukannya jejak benteng purba di situs Mohenjodaro, Harappa, Chanhudaro, dsb. Benteng-benteng itu lantas dihancurkan oleh kawanan komunitas semi-nomaden, yang dikenal dengan sebutan ‘bangsa Aria’. Dalam pustaka suci Veddha, sebutan untuk bangsa Aria adalah ‘Puramdhara’, yang artinya penghancur benteng. Dalam Bahasa Jawa Kuna ataupun Jawa Tengahan juga dijumpai istilah ‘pura’ dan ‘puri’, kosakata serapan dari Bahasa Sansekreta, yang secara harafiah berarti benteng, istana, kerajaan, kota, ibu kota, tempat tinggal raja, atau apartemen wanita (Zoetmulder, 1995:882). Dengan demikian, tidaklah benar bila dikatakan bahwa arsitektur benteng di Nusantara baru hadir pada Masa Kolonial, sebagai buah dari difusi budaya Eropa yang mengenal arsitektur benteng dengan sebutan ‘castile’.

Situs Ratuboko (IX Masehi) misalnya, dengan jelas memperlihatkan model pertahanan yang diperlengkapi dengan tanggul terjal berlapis balok-balok batu, pagar keliling dua lapis, parit, pos jaga dan pemantauan gerak lawan maupun lorong penyelamatan. Ratuboko adalah kompleks vihara (abhayagirivihara), keraton dan sekaligus benteng di atas bukit, yang pernah dipakai oleh Balaputradewa untuk mempertahankan kedudukannya dalam menghadapi serangan dari kakak tiri (Pramodhawarddhani) dan iparnya (Rakai Pikatan). Dalam prasasti Siwagreha (778 S = 896 M) Ratuboko digambarkan sebagi tempat pengungsian (SNI, 2010: 158). Adapun yang dimaksud adalah tempat pengungsian dari Balaputradewa. Struktur dan bentuk benteng yang areal bagian belakang dan kirinya dibatasi oleh aliran sungai ini jauh lebih kokoh, lebih kompleks dan lebih maju daripada benteng yang berusia sedikit lebih tua, yaitu benteng Kerajaan Ho-ling, yang dalam kronik Dinasti Tang (618-908 M) pada masa pemerintahan Chen-kuan (627-649 M) diberitakan bahwa pusat kerajaan dikeliling oleh pagar keliling yang terbuat dari tonggak-tonggak kayu (Groneveld, 1960). Benteng kerajaan sebenarnya juga terdapat di pusat kerajaan Sriwijaya, yang menurut catatan perjalanan dari I-Tsing dikelilingi oleh benteng. Namun sayang tidak disertai deskrisi mengenai bentuk dan bahan bangunan yang digunakan. Kemungkinan berupa balok-balok kayu atau bambu yang ditutupi semak-semak.

Sumber data epigrafi tak terkecuali memberitakan tentang benteng. Misalnya, Prasasti Cane (1021 M.) yang ditulis atas perintah dari raja Airlangga (Brandes, OJO LVIII, 1913) memberitakan bahwa penduduk desa (wanwa) Cane memperoleh anugerah status perdikan (sima) berkat jasanya menjadi ‘benteng’ di sebelah barat kerajaan. Mereka memperlihatkan ketulusan hati dalam mempersembahkan bhakti kepada raja, tiada gentar pertaruhkan jiwa raga dalam peperangan agar Sri Maharaja memperoleh kemenangan. Bisa jadi di desa Cane terdapat benteng, dalam posisi sebagai ujung tombak untuk menghadapi serangan dari arah barat, mengingat bahwa lawan utama [yaitu Wurawari] berlokasi di sebelah barat kerajaan (SNI, 2010:205). Kala itu keraton (kadatwan) Airlangga berada di Wwatan Mas pada lereng utara Gunung Penanggungan. Jejaknya arkeologisnya didapati di situs Jedong pada Dusun Wotanmas Desa Jedong Kec. Ngoro Kab. Mojokerto. Menilik dua pintu gerbang menghadap ke barat beserta pagar batu berukuran tinggi serta tebal, tanggul terjal berlapis balok-balok batu, kolam depan di sisi barat situs maupun posisi topografisnya yang lebih tinggi daripada tanah di sekitarnya, hal itu menggambarkan arsitektur benteng-keraton. Pada tahun 1032 M. Wwatan Mas ditinggalkan lantaran serangan musuh, selanjutnya dibangun kadatwan baru di Kahuripan. Kendati demikian, eks kadatwan Airlangga ini terus dimanfaatkan hingga masa keemasan Majapahit – terbukti oleh adanya kronogram bertarikh Saka 1307 (1385 M) pada ambang pintu bagian atas gapura I. Kadatwan Wwatan Mas didukung oleh benteng, yang ditempatkan di bagian baratnya, yakni benteng Kuto Giring.

Pada waktu yang lebih kemudian, tepatnya pada tahun 1271 M, hadir perbentengan di Canggu Lor, yang menurut keterangan kitab Pararaton (hal. 26) dibangun atas perintah dari raja Wisnuwarddhana. Canggu Lor merupakan tempat yang stategis, sebab terletak di jelang percabangan bangawan Bantas – bercabang menjadi tiga sungai, yaitu kali Mas, Porong dan sebuah kali lainnya yang telah mati. Pembangunan benteng Canggu Lor ada hubungannya dengan serangan atas Mahibit, dimana Mahibit diperkirakan juga berlokasi di tepi Brantas, dekat Terung (SNI, 2010:433), Disamping itu, sangat boleh jadi dibuat untuk melengkapi, melindungi, serta mendukung otoritas operasional pelabuhan transito pada aliran Brantas di Canggu Lor yang strategis (Mulyana, 2006:106-107). Jika benar demikian, berarti telah ada konsepsi paduan ‘pelabuhan-benteng’ sejak masa Hindu-Buddha, yang nantinya [pada Masa Perkembangan Islam] marak dilakukan. Pada contoh ini tempat yang berada di percabangan sungai dikalkulasi sebagai titik strategis.

Jejak benteng (istilah lokal ‘biting’) lainnya berkaitan dengan nagari Lamajang, yang dijumpai di situs Biting pada Kelurahan Kutorenon Kec. Sukadana Kab. Lumajang, Bentuk benteng mengikuti empat aliran sungai, yaitu sungai: Bondoyudo di sisi utara, Winong di sisi timur, Cangkring di sisi selatan dan Peloso di sisi barat. Sungai-sungai itu dimanfaatkan sebagai barier alam, semacam parit keliling pelindung benteng (Abbas, 2012:142). Benteng Kutorenon dilengkapi dengan enam buah menara intai, yang mengingatkan kepada bastion dari castile Eropa atau pada baluari dari benteng-keraton Ngayogyakartahadiningrat. Boleh jadi benteng ini adalah benteng purba masa Majapahit yang mengalami renovasi pada Masa Perkembangan Islam. Toponimi ‘Kutorenon’ dapat diidentifikasikan dengan ‘Arnon’ yang disebut dalam kakawin Nagarakretagama (pupuh 21) terkait dengan tour de inspection raja Hayamwuruk dan dalam Babad Tanah Jawi. Selain itu Nagarakretagama (pupuh 48.2) juga memberitakan bahwa raja ke-2 kerajaan Majapahit, yakni Jayanagara, memimpin serangang untuk memadamkan perlawanan para oposan di daerah Lamajang Tigang Juru (Lumajang, Blambangan dan Panarukan) pada daerah kekuasaan Wiraraja dengan menggempur benteng keraton Arnon di Lamajang (kini bernama ‘Lumajang’) yang ditinggali oleh Aryya Wiraraja dan kota-benteng Pajarakan yang diperintah Aryya Nambi pada tahun Saka 1238 (1316 M).

Perbentengan menjadi model pertahanan kuno yang kian marak pada masa kasultanan dalam Masa Perkembangan Islam. Keraton dikemas sedemikian rupa menjadi permukiman dalam lindungan tembok benteng, sehingga muncul sebutan ‘benteng keraton’. Secara teknologis dan arsitektural, meski benteng keraton merupakan benteng dari penguasa pribumi, namun dalam sejumlah hal mendapat pengaruh dari perbentengan Eropa (Abbas, 2012:140), misalnya dilengkapi dengan menara intai yang pada perbentengan Eropa dinamai ‘bastion’ atau ‘baluarti’ ataupun ‘pangingukan’ dalam istilah Jawa.

B. Perbentengan Nusantara Era Kasultanan

Salah satu benteng keraton, yang sejauh diketahui merupakan benteng keraton tertua dari Masa Perkembangan Islam, terletak di Banten Lama. Menurut catatan Tome Pires, pada abad XVI Banten merupakan pelabuhan pengekspor lada, beras, bahan makanan lain. Lada adalah komoditi yang penting kala itu, yang banyak dicari pedagang. Lada banyak tumbuh di Sumatra, Malaka dan Jawa Barat. Kasultanan Banten menerima lada dari Bengkulu dan Lampung, bahkan memegang monopoli atasnya, lantaran merupakan daerah kekuasaannya. Gambaran awal dari pelabuhan Banten adalah di bagian pantai kayu-kayu dipancangkan ke dalam dasar laut untuk pertahanan, dan sepanjang Kota Banten ditanami dua deretan kayu-kayu besi di dasar laut. Kota Banten dikeliling air, sehingga orang dapat melayari seluruh kota melalui jalan-jalan air yang berupa sungai dan perairan pantai (Untoro, 2006:36, 88).

Kota Banten dikelilingi oleh tembok batu. Pada setiap sudut kota dan di tepi Banten ditempatkan alat anti serangan musuh (meriam). Pertahanan kota ditempatkan di tepi pantai, berupa sebuah benteng yang dibuat dari batu dan bata, yang kemudian diberi pelapis luar (mantelsteen) dari batu karang. Pagar benteng yang demikian sebagai pengganti bagi pagar lama yang pada mulanya hanya berupa jajaran balok-balok kayu. Pagar benteng seperti itu mengingatkan kita pada benteng-keraton Banjar, yang dalam gambar grafis karya litotograf Belanda bernama C.M. Meling (tahun 1843) dari kayu melingkari keraton, serta dilengkapi dengan pintu gerbang yang dapat dibuka tutup berupa jembatan kecil di belakang pendapa besar (Hermanu 2010:27-28). Perkuatan terhadap pagar benteng di Kota Banten itu dipicu oleh pembangunan benteng VOC [bernama Speelwijck] ketika Kompeni Belanda berusaha memperkuat kedudukannya. Keduanya berjarak dekat, hanya dipisahkan oleh aliran Sungai Cibanten. Keberadaan tembok keliling berbentuk zigzag untuk melindungi kota Banten juga tergambarkan dalam peta-peta kuno abad XVII.

Benteng penguasa pribumi yang terbilang besar dari masa yang lebih kemudian antara lain adalah benteng Kuto Besak, benteng Kasultanan Palembang yang dibangun atas prakarsa Sultan Mahmud Badaruddin I atas biaya sendiri. Pembangunannya memakan waktu hingga 17 tahun. Gambaran mengenai kebesaran benteng yang diresmikan penggunaannya pada Senin 21-2-1797 ini diberikan oleh van Rijn van Alkemende ‘benteng ini adalah salah satu yang terbesar di kepulauan Hindia dan tidak dapat dikalahkan musuh dari pedalaman’. Ketangguhannya teruji tatkala menghadapi serangan pasukan Inggris (1812) dan serangan pasukan Kompeni Belanda pada Perang Menteng (Perang Palembang) babak I dan II (1819 dan 1821) kala pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin II.

Benteng ini memenuhi syarat pertahanan, lantaran dilindungi oleh tembok batu setinggi 9,99 m (30 kaki) dan tebal 1,99 m (6 kaki), dilengkapi ‘parit keliling’ yang berupa aliran empat buah sungai (Tengkuruk di sisi timur, Musi di selatan, Sekanak di barat, Kapuran di utara), bastion di setiap sudut benteng, serta didukung persenjataan yang maju pada jamannya (meriam dan senapan). Sebenarnya, benteng Koto Besak yang sekaligus menjadi pusat pemerintahan Kasultanan Palembang ini hanya sebuah diantara sejumlah benteng dalam sistem perbentengan di aliran Musi. Lokasinya relatif di pedalaman. Lebih hilir darinya ditempatkan benteng Sungsang di muara Musi, benteng Upang, Tambakbaya, Martapura, Manguntana dan benteng di Pulau Kembaru, yang secara khusus difungsikan sebagai penghambat laju serangan musuh yang akan menyerang keraton-benteng Kuto Besak (Utomo, 1993:39-48).

C. Perbentengan Nusantara Era Kolonial

Kebanyakan situs benteng di Indonesia adalah tinggalan benteng dari bangsa-bangsa Eropa, utamanya Kompeni Belanda. Bagi penjajah atau penguasa pendatang, benteng amat vital untuk melindungi pasukannya maupun kepentingan ekonominya dari serangan penguasa dan warga terjajah. Sebagai salah sebuah kota pelabuhan terbesar di Asia Tenggara, pusat dagang antar benua dan regional, markas besar atau pusat administrasi VOC di Asia, tempat kedudukan Gubernur Jendral beserta pemerintahannya, pusat pertemuan serta tempat VOC mengirim atau menerima armada-armadanya dari/ke Eropa sengaja didesain dalam bentuk kastil yang sangat besar di muara Kali Ciliwung lengkap dengan tembok keliling dan selalu memiliki peralatan, persediaan, dan persenjataan yang baik.

Kastil Batavia adalah benteng berbentuk segi empat dengan bastion-bastion (menara pengawas) di tiap sudutnya dan pada sisi luarnya dilengkapi dengan parit. Peta pada Arsip Nasional Den Haag No. Inv. Vel. 1192 tahun 1795 menggambarkan bahwa Kota Batavia yang sejak dulu amat sibuk itu dikelilingi tembok, sehingga terjamin keamanannya (Bruijn, 2002:4, 21). Ada sebagian bastion yang mulanya dibuat dari kayu, kemudian diganti dengan batu. VOC pusatkan sistem pertahanan dan pengamanannya di bagian utara Kota Batavia, lantaran daerah itu merupakan kawasan niaga atau pusat perdagangan. Untuk lebih mendukung keamanannya, di Batavia dan daerah sekitarnya dibangun 16 benteng, seperti benteng (fort) Sterreschans, Waterkansteel, Dieren, Kastil Batavia, Ancol, Jacarta, Noordwijk, Rijswijk Angke, Vifhoek, Buitenwacht, Pulau Onrust, Pulau Bidadari, Pulau Cipir, Pulau Kelor, dan tembok keliling kota. Pulau-pulau itu dijadikan basis pertahanan dan tempat perbaikan kapal-kapal VOC (Novita, 1996:32-36).

Benteng Belanda yang berasal dari masa lebih akhir, yang dibangun tahun 1808 adalah Benteng Lodewijk di Pulau Manari – warga setempat menamai ‘Pulau Kiper’ – di wilayah Pulo Mengare Kel. Tanjung Widoro Kec. Bungah Kab. Gresik, lepas muara Sungai Cemara [sebagai bekas aliran lama Bengawan Solo]. Muara sungai ini konon merupakan pelabuhan kuno bernama ‘Jaratan’. Sebutan ‘Jaratan’ kini beralih menjadi ‘Kramat’, dimana keduanya bersinonim arti. Kramat adalah sebuah diantara tiga buah dusun di Desa Tanjung Widoro di wilayah Pulo Mengare (Cahyono, 2008:61). Keberadaan pelabuhan Jaratan diberitakan oleh Tome Pires bahwa pada permulaan abad XVI terdapat dua pelabuhan laut di Gresik sebagai pelabuhan yang paling kaya dan paling penting di seluruh Jawa, yaitu pelabuhan Gresik dan pelabuhan Jaratan. Untuk menghalang-halangi perdagangan gelap yang sering terjadi di situ Kompeni Belanda dan Susuhunan Mataram membuat perjanjian untuk membangun ‘rumah penjagaan’ (tahun 1734) di pulau kecil, yang berjarak kurang dari 1 km di utara pelabuhan Jaratan. Rumah penjagaan itu adalah semacam benteng, yang memiliki kewibawaan untuk memaksa kapal/perahu barang yang hilir mudik untuk melapor dan membayar cukai. Warga setempat menamai pulau itu dengan ‘Pulau Kiper’, yang berasal dari kata ‘keeper (penjaga atau tempat penjagaan)’. Benteng Lodewijk yang dibangun tiga perempat abad sesudahnya bisa jadi didirikan di lokasi ‘rumah penjagaan’ tersebut.

Pembangunannya Benteng Lodewijk atas perintah Gubernur Jendral Daendels terkait rencana pembangunan dua benteng, yaitu di Merak dan di P. Manari. Menurut manuskrip kartografi koleksi Arsip Nasional Nomor E83, benteng Lodewijk berdenah empat persegi panjang, dengan bastion di keempat sudutnya. Pintu masuk berada di sisi selatan, sedangkan parit keliling tak terlihat. Untuk benteng di suatu pulau, yang dikelilingi oleh perairan, parit keliling tidak dibutuhkan sebagai barier. Sumber Belanda maupun Inggris menyatakan bahwa ukuran benteng cukup besar (mampu menampung 800 prajurit) dan dipersenjatai dengan 102 pucuk meriam. Masa penggunaannya tidak lama (hanya ± 50 tahun). Benteng Lodewijk dihancurkan sendiri oleh Belanda tahun 1857, selanjutnya dibuat pusat pertahanan baru di Surabaya (Abbas, 2006: 71-79). Menilik letaknya, benteng Lodewijk masuk dalam kategori benteng di suatu pulau.

Ketika penjajah Belanda berhasil memantapkan posisi kekuasaannya di tanah jajahan, benteng bukan lagi sekedar pelindung diri, melainkan dimanfaatkan pula untuk mendukung operasi militer, termasuk upaya pemadaman perlawanan yang dilakukan oleh penguasa atau pimpinan masyarakat di suatu daerah. Untuk menghadapi perlawanan dahsyat serta luas dari Pangeran Diponegoro (1825-1830) beserta koalisinya, mulai tahun 1827 Kompeni Belanda berhasil mengetahui bagaimana cara terbaik untuk memanfaatkan serdadunya, yakni dengan menerapkan ‘benteng stelsel (sistem benteng)’. Dengan strategi ini, satuan-satuan-bergerak kecil dapat beroperasi secara sendirian, terlepas dari jaringan pos-pos berbenteng yang strategis yang selalu berkembang, serta dapat mengawasi penduduk setempat secara permanen. Gerombolan-gerombolan pemberontak dipaksa bertempur sebelum mereka sempat tumbuh dalam jumlah yang besar. Mereka juga dicegah untuk tinggal lama di setiap daerah. Strategi perang ini terbukti jitu, dimana pasca tahun 1827 Diponegoro dan pasukannya terus dikejar-kejar dan terjepit (Ricklefs, 2005:256), atau dengan perkataan lain mampu memecah basis kekuatan dan mempersempit ruang gerak lawan.

D. Benteng Tabanio di Tanah Laut

02

Benteng Tabanio merupakan benteng Belanda, yang dibangun di sekitar muara Sungai Tabanio. Menilik letaknya, benteng ini termasuk dalam kategori benteng di muara sungai. Dengan demikian, Benteng Tabanio secara relative dating masuk dalam Periode Kolonial, Kendati masuk dalam Periode Kolonial, namun bukan berarti bahwa peristiwa historis yang terkandung didalamnya dihapus dari Sejarah Banjar atau dari Sejarah Regional Kalimantan Selatan – lebih khusus lagi pada Sejarah Daerah Tanah Laut. Dasar pertimbangannya adalah sekecil apapun data artefaktual yang dieksplorasi di situs benteng Tabanio dan data tekstual yang diperoleh dalam sumber data arsip dan susastra memberi manfaat bagi pengisian detail-detail Sejarah Banjar, dan sudah barang tentu bagi Sejarah Daerah Plehari.

Terkandung di dalamnya semangat sejarah (historical spirit), yang bukan ditekankan pada zenosentrisme atau aspek penjajahan (klonialisme), melainkan kepada aspek heroisme terkait dengan Perang Banjar guna menentang kolonialisme atas negeri leluhurnya. Spirit historis lainnya yang terkandung adalah dinamika. Kendati bahwa latar keagamaan penjajah (warga Negeri Belanda) berlainan dengan keyakinan mayoritas warga Banjar, namun tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran bangsa dan budaya Eropa di kawasan Banjar memicu terjadinya sejumlah perubahan di Kalimantan Selatan dan di Tanah Laut khususnya. Buah perubahan tersebut dirasa sampai beberapa dasawarsa lalu, bahkan hingga kini. Diantaranya adalah budidaya lada, pembangunan pabrik gula dan dermaga beserta dampak ekonominya, arsitektur kota bergaya Indis dsb. Bolehlah dikata bahwa geliat ekonomi dan pembentukan wajah kota Tanah Laut bermula pada periode kolonial ini.

03

Gambaran detail tentang arsitektur diperoleh dari data litografi serta temuan artefaktual hasil ekskavasi tahun 2011, 2012, 2013 dan 2014 (Tahap I, II, III, dan IV) di situs benteng Tabanio, yang berada di Desa Tabanio di Kec. Takisung Kab. Tanah Laut Prop. Kalimantan Selatan. Dalam sebutan berlogat Belanda, namanya adalah ‘Tabenieuw, atau Taboenieuw, atau Tabanieuw’. Nama ‘Tabanio’ juga digunakan untuk menamai sungai yang mengalir di daerah ini. Sekilas gambaran utuh tentangnya diperoleh dalam sketsa (litografi) karya W.A. van Rees tahun 1855 — meski hanya sebatas tampak depan dan salah sebuah sisi samping darinya. Pada sketsa ini benteng Tabanio tergambar dibangun di tepi sungai kecil (Sungai Tabanio), dan sekaligus di sekitar muara sungai. Topografi tempat berdirinya benteng relatif sama dengan muka tanah sekitarnya.

04

Masing-masing sudut benteng diperlengkapi dengan bastion yang berbangun bundar. Pintu gerbang menghadap ke laut. Tembok benteng terbilang cukup tinggi, yakni setinggi tubuh gapura. Pada bagian tertentu didirikan bangunan tanpa dinding pada permukaan tanah yang ditinggikan, hampir setinggi tembok benteng. Denah benteng empat persegi panjang, atau mungkin berbangun bujur sangkar. Sebuah tiang bendera beserta benderanya tampak tinggi menjulang, sehingga tampak jelas dari luar benteng. Perahu dengan penggerak sebuah dayung kecil dan sebuah perahu dayung yang lebih besar melintas di seberang pantai.

Benteng Tabanio di bangun pada sekitar tahun 1779, terkait dengan perjanjian antara Kesultanan Banjar semasa pemerintahan Pangeran Nata Dilaga dan VOC tanggal 6 Juli 1779, dimana VOC mendapatkan konsesi berupa monopoli atas perdagangan di Banjar serta berhak membangun sebuah benteng. Picu bagi kehadiran VOC di Tabanio adalah potensi perkebunan lada, perikanan dan tambang emas Pelaihari. Sebenarnya, ada sejumlah benteng di Tanah Banjar, selain Benteng Tabanio terdapat benteng Pengaron, benteng Gunung Lawak dan pos-pos Belanda yang berada di istana Martapura. Di dalam suatu serangan ketika Perang Banjar yang dipimpin oleh kawan-kawan seperjuangan Antasari, tokoh pejuang Kiai Demang Leman serta Haji Buyasin dan Kiai Langlang dari Tanah Laut berhasil merebut salah sebuah benteng Belanda di Tabanio pada Agustus 1859.

Ditilik dari pemilik atau penggunanya, banteng Tabanio bisa disebut sebagai ‘benteng kolonial’, dalam arti fasilitas pertahanan untuk menjamin rasa aman para pemukim di dalam lingkungan tembok benteng terhadap kemungkinan serangan dari luar benteng, sekaligus sarana penunjang kepentingan Kompeni Belanda lainnya, tak terkecuali kepentingan ekonomi kolonial. Terhadap kehadiran benteng kolonial dapat diberlakukan hukum ‘cause and effect (sebab-akibat)’, yakni lantaran hadir benteng kolonial beserta para pemukim yang tinggal di dalamnya dan kepentingan darinya, maka pada sisi lain mengundang reaksi dari pihak lain yang berbeda kepentingan dengannya. Eskalasi reaksi yang timbul itu bisa menjelma dalam bentuk perlawanan fisik atau peperangan, yang dikenal sebagai perang melawan penjajahan. Reaksi demikian pernah terjadi di Tanah Banjar, dalam konteks Perang Banjar.Perang Banjar (1859 – 1905) antara lain dilatari oleh suksesi pemerintahan.

Belanda telah lama mencampuri urusan internal istana Banjar, yang menyulut kebencian terhadap Belanda. Puncaknya ketika terjadi kericuhan pergantian tahta pasca mangkatnya Sultan Adam (tahun 1857). Belanda mengangkat Pangeran Tahmjidilah (1778-1802), tetapi rakyat tak mau menerimanya, lantaran menurutnya Pangeran Hidayat lah yang lebih berhak atas tahta dan lebih disenangi rakyat. Kendati demikian, kekuasaan Sultan Tahmidillah terus berlangsung. Sultan memiliki tiga orang putra, yaitu Pangeran Rahmad, Abdullah dan Amir. Kembali terjadi perebutan tahta di Kasultanan Banjar. Dalam kericuhan ini, Pangeran Nata Dilaga – salah seorang saudara Sultan Tahmidillah, berhasil membunuh Pangeran Rahmat dan Abdullah atas bantuan Belanda. Pangeran Nata diangkat oleh Belanda menjadi sultan, dengan gelar ‘Sultan Tahmidillah II’. Tampilnya Sultan Tahmidillah II mendapat tantangan dan perlawanan dari Pangeran Amir, yaitu salah seorang putera Sultan Tahmidillah I yang selamat dari pembunuhan tersebut. Sultan Tahmidillah II sepenuhnya dibantu oleh Belanda. Akhirnya Pangeran Amir dapat ditangkap oleh Belanda dan selanjutnya dibuang ke Ceylon. Kemenangan Sultan Tahmidillah II harus dibayar mahal kepada Belanda, karena kasultanan banjar harus menyerahkan daerah Pegatan, Pasir, Kutai, Bulungan dan Kotawaringin.

Pangeran Amir mempunyai seorang putera bernama Antasari, yang lahir tahun 1809. Sejak kecil ia tidak senang hidup di istana yang penuh intrik dan dominasi oleh kekuasaan Belanda, sebaliknya memilih hidup di tengah-tengah rakyat dan banyak belajar agama pada para ulama serta hidup dengan berdagang.dan bertani. Pada tahun 1859 berkobar pertempuran antara rakyat Banjar melawan Belanda dibawah pimpinan Antasari. Rakyat Banjar, para pejuang, alim ulama maupun bangsawan dengan suara bulat mengangkat Antasari menjadi ‘Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin’ tanggal 14 Maret 1862 (13 Ramadhan 1278 H). Dalam posisinya sebagai pewaris tahta kasultanan, pemimpin rakyat maupun panglima perang, beliau memulai perjuangan rakyat Banjar dengan seruan ‘hidup untuk Allah, mati untuk Allah’. Mengingat Kompeni Belanda memiliki kekuatan militer besar dan tangguh, maka Antasari menghimpun semua potensi rakyat, diantaranya Pangeran Hidayatullah yang menjabat mangkubumi. Dua minggu sebelum pecah Perang Banjar (28 April 1859) Antasari mengajak Pangeran Hidayatullah untuk bersama melawan Belanda. Tokoh-tokoh lain yang ikut terlibat antara lain Kiai Demang Leman (bergelar ‘Kiai Adipati Mangku Negara’) yang menjabat lalawangan atau kepala distrik Riam Kanan, Haji Nasrun, Haji Buyasin dan Kiai Langlang dari Tanah Laut, serta Tumenggung Suropati.

Pertempuran meluas ke Tanah Laut, Barito, Hulu Kapuas dan Kahayan. Pada akhir April 1859 pasukan Antasari menyerbu pos-pos Belanda di Martapura dan Pangaron, sedangkan Kiai Demang Leman, Haji Buyasin, dan Kiai Langlang berhasil merebut Benteng Tabanio (Agustus 1859). Pada sisi lain, tatkala pertempuran sedang berlangsung, Belanda memecat Pangeran Hidayat sebagai mangkubumi lantaran ia menolak hentikan perlawanan. Selain itu, sejak tanggal 11 Juni 1860 jabatan sultan di Kasultanan Banjar kosong, karena pihak Belanda [yang diwakili oleh Andresen] menurunkan Sultan Tamjidillah II dari tahta. Dengan demikian, kasultanan Banjar dihapus dan dimasukkan ke dalam lingkup kekuasaan Kompeni Belanda.

Disamping faktor suksesi pemerintahan, Perang Banjar juga dilatari oleh keserakahan Kompeni Belanda dalam monopoli komoditi dagang, utamanya lada. Dalam penjanjian antara Kesultanan Banjar semasa pemerintahan Pangeran Nata Dilaga dan Kompeni Belanda (6 Juli 1779), VOC mendapatkan konsesi berupa monopoli atas perdagangan di Banjar serta berhak membangun sebuah benteng. Perjanjian ini dibuat sebagai balas jasa dari Pangeran Nata atas dukungan Belanda ketika membinasakan Pangeran Rahmad dan Abdullah serta penobatnya sebagai sultan.

Sebenarnya, lebih awal daripada itu (tahun 1635) pernah terdapat perjanjian serupa antara Kasultanan Banjar semasa pemerintahan Sultan Rachmatullah dan VOC, dimana VOC mendapat hak monopoli penjualan lada dan lain-lain hasil bumi. Setahun kemudian Kompeni Belanda mendirikan kantor dagangnya di Kota Banjarmasin. Dengan adanya kantor dagang dan hak monopoli tersebut, maka hasil bumi dari petani Banjar selalu diikat dan harus dijual kepada Belanda dengan harga yang ditentukan sendiri oleh VOC. Jika menjual kepada pihak lain, maka pelaku dikenai hukuman berat. Kembali terjadi perjanjian antara kasultanan Banjar semasa pemerintahan Sultan Mustainullah dan VOC (tahun 1660), dimana VOC mendapat hak untuk mengambil sendiri hasil bumi lada dan lain-lainnya dari Banjarmasin. Empat tahun kemudian (1664) dibuat perjanjian baru, dimana VOC diberi kesempatan mendirikan kantor dagang. Pada tahun 1666 atas permintaan Sultan kantor dagang itu ditutup, namun demikian hak pengiriman barang dagangan masih tetap berlaku (Hermanu, 2010:107-110).

Faktor lainnya adalah persepsi religis bahwa Kompeni Belanda adalah pihak ‘khafir’. Tentangan terhadap kekhafiran yang demikian terjadi pula di daerah-daerah lain di Indonesia. Apalagi sesuai dengan gelarnya, yakni ‘Khalifatul Mukminin’, Pangeran Antasari dalam posisi sebagai pemimpin umat Isam. Latar kehidupan Pangeran Antasari ketika muda, yang rajin belajar agama kepada para ulama, turut membentuk persepsi itu. Demikian pula bagi rakyat Banjar, perjuangan menentang praktik penjajahan Belanda sekaligus merupakan ‘penolakan terhadap kekafiran’.

Peristiwa historis terkait dengan Benteng Tabanio bukan saja mengekspresikan heroisme rakyat Banjar dalam menentang kolonialisme, namun sekaligus mampu membuahkan ‘rasa bangga’ karena perlawanan rakyat Banjar berhasil merebut Benteng Tabanio yang kala itu menjadi simbol supremasi kekuasaan Belanda. Telaah terhadap peristiwa historis di balik Benteng Tabanio sebagai palagan (ajang pertempuran) bisa juga diarahkan pada upaya untuk mendapat gambaran mengenai perlawanan dan pertahanan diri guna menghadapinya, sebab umum dan sebab khusus (casus bally) terjadinya serangan terhadap benteng Tabanio, maupun akibat yang ditimbulkannya. Butir-butir kajian itu tidak seluruhnya dapat dijawab semata menggunakan data arkeologi di situs benteng Tabanio, namun perlu pula dilengkapi dengan data tekstual, walau lantaran keterbatasan data yang didapatkan terpaksa tidak dapat dihadirkan jawaban rinci untuk semua satuan telaah tersebut.

Sengkaling, 8 Agustus 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s